Monday, 17 January 2022 | 20:15 Wita

Ariful Aziz, Tenaga Baru di Hidayatullah Bulucenrana.

Editor: admin
Share

SIDRAP, HidayatullahSulsel.com — Malam Ahad itu, (15/1/2022), pukul 19.30, selepas magrib, mobil penumpang, plat hitam melaju meninggalkan Yayasan Al Bayan, Hidayatullah Makassar, menuju Sidrap. Padatnya kendaraan malam ini, membuat mobil berjalan perlahan, macet, merayap.

Di atas mobil itu, 4 empat orang penumpang dan satu driver, semua lima orang. “Mace’,ki laleng-nge Pak, biasa tette lima, lettu na di Maros” ujar sang sopir dengan logat Bugisnnya. Dia menjemput kami selepas sholat Magrib.

Mobil melaju. Di mobil, duduk di depan saya, seorang wanita muda, tepat di samping sopir. Saya sendiri, berada di sisi kiri, Ariful Aziz tepat di tengah, seorang lagi di sisi kanan. Di kursi belakang kosong, tiga tas milik Ariful, tas saya, juga sekantong garam auladi, untuk buat telur asin Pak Dani, dan beberapa barang penumpang lain.

Selepas Pangkep, mobil melaju dengan kecepatan rata-rata 100 km/jam. Sayang, kondisi jalan tidak semua baik. Beberapa titik terdapat lubang yang cukup dalam. Akbat terjangan banjir dan hujan beberapa waktu lalu.

Sekira dengan kecepatan 80 km/per jam, di daerah Takkalasi Barru, tiba-tiba terdengar bunyi Buurrrnnn, pltaakkk…, platakkk… brakkk, pada mobil, Avanza putih itu. Sang sopir mendadak banting setir ke kiri. Ban kiri depan mobil pecah. Velegnya bahkan terbelah dua.

“Maklum, velg variasi” gerutu sang sopir. Bersyukur sang sopir bisa mengendalikan setir mobilnya, dan langsung menepi di jalur kiri

Ini perjalanan perjuangan. Ariful Aziz, seorang kader dari Makassar, yang berusaha untuk menjajaki perjuangan di Bulucenrana, Sidrap. Saya sengaja ke Makassar, untuk menjemputnya.

Ariful Aziz adalah seorang staf di Yayasan Al Bayan, dibawah kendali Kabid Tarbiyah, Muh. Arfah. Selain itu, ia juga banyak membantu di Yayasan Al Islam, DPD Hidayatullah Makassar. Isterinya masih mengajar di SD Al Islam Makassar.

Tekad Ariful Aziz untuk hijrah ke Hidayatullah Sidrap begitu kuat. “Saya ingin berubah” ungkapnya

Usai pecah ban, mobil melanjutkan perjalanan. Sampai di situ, ujian belum usai. Malam sudah menunjukkan pukul 12.00, mobil baru masuk wilayah Parepare. Kabar baiknya, perjalanan lancar dan normal. Kabar buruknya, mobil itu tidak mengantar hingga ke pondok, di Hidayatullah Bottolita, Bulucenrana. “Kami hanya mengantar sampai Dongi Pak” pinta sang sopir.

Entah bagaimana lagi, kami juga tidak bisa memaksa pak sopir. Mobil hanya sampai di Pasar Dongi. Artinya, masih sekitar 5 kilo lagi ke lokasi pondok. Jam sudah menunjukkan pukul 01 dini hari, mau jalan kaki, juga terlalu jauh. Nginap di rumah orang, juga belum ada kenalan. Minta jemput, juga tidak ada yang bisa jemput. Tapi kami tidak pasrah.

Saya teringat group wa PB. Bulcen Utama, yang baru tiga hari lalu, saya bergabung. Biasanya, anak-anak Bulucenrana, main badminton hingga jam satu kalau malam Ahad.

Saya kirim pesan berkirim pesan di WAG,
“Assalamualaikum… Adakah anggota di group ini yang tinggal di Dongi? Saya dari Makassar, mau ke Bulcen, tapi mobil angkutannya hanya sampai di Dongi. 🙏🙏🙏”

Spontan ada jawaban., “Ada Pak.” Singkat cerita, malam itu. Kami langsung telpon Pak Ulla, nomer yang diberikan ke saya di group.

“Iye, tunggu ka di depan masjid, pertigaan pasar Dongi, anak-anak makan dulu, menunggu Ki sebentar Pak, Kami baru selesai main di Tanru Tedong,” ungkap Pak Ulla via telepon. Alhamdulillah jawaban itu cukup melegakan. Artinya, ada peluang untuk sampai di pondok, tanpa jalan kaki.

Sekitar 15 menit menunggu, jemputan itu tiba. Kami bersalaman, sambil berkenalan, karena baru pertama ketemu, selama ini hanya ketemu di group, itupun belum kenal.

Malam itu, kami diantar langsung sampai ke Pondok Hidayatullah Bulucenrana, meskipun mobil yang dikendarai, beberapa kali kandas, karena mobil kecil yang ceper, entah merek apa, juga jalan yang memang berlubang sana sini.

Alhamdulillah, kami tiba pondok, tepat jam 2 lewat lima menit dini hari. Terimakasih kasih kepada Pak Ulla, Pak Fandy, dan Pak Cammang, PB. Bulcen Utama, yang telah membantu perjalanan kami.

Dan selamat datang Pak Ariful Aziz, petugas baru Hidayatullah Bulucenrana. Selamat berjuang di alam nyata, bukan di alam pernyataan. Selamat berjuang di alam realita, bukan di alam cerita.■ abu fathun mubarak



BACA JUGA