Friday, 2 September 2022 | 07:50 Wita

Perubahan itu dengan Akal dan Spiritual Kuat Serta Siap Berkompetisi

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

Oleh : Ust Drs Ahkam Sumadiyana MA, Instruktur Nasional Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Yang dibutuhkan dalam kehidupan ini adalah perubahan. Perubahan sering dijadikan jargon, tema, baik dalam urusan politik maupun sosial. Bahkan juga yang paling dominan dalam kehidupan Islam ini perubahan untuk terwujudnya peradaban Islam.

Dan memang perubahan menjadi obsesi semua orang. Ada dua pendorong utama manusia untuk senantiasa ingin perubahan yang signifikan.

Pertama, manusia memiliki sifat bosan. Orang tidak suka selalu disajikan makan menu ayam (ingin juga ikan kering). Kalau itu-itu terus maka otomatis mebuntut perubahan.

Kedua, sifat manusia ini dinamis, menginginkan dinamika. Karena manusia punya keinginan, cita-cita bahkan superioritas. Maka dinamika inilah yang harus ditempuh. Lawan dinamika itu stagnan.

Dinamika itu sunatullah, sedangkan stagnan melawan sunah. Jadi kalau ada yang mau awet atau tetap muda itu melawan sunah.

Mengapa dinamika sebuah keharusan dan bagaimana dinamika yang benar itu. Karena semua ingin berubah. Darimana mau berubah. Semua ormas dan harakah lembaga perjuangan senantiasa ingin melakukan perubahan. Maka darimana perubahan harus dimulai.

Alhamdulillah di Hidayatullah sudah menjawab semua itu. Salah satu cara untuk mendinamisasi dengan menyelenggarakan daurah. Ini baru satu hal.

Kalau kita mengambil landasan syariah tentang perubahan terdapat pada

QS. Ar-Ra’d Ayat 11
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Bahwa sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, ormas dan lembaga perjuangan hingga pribadi-pribadi dan kader berubah dirinya bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin.

Ada juga orang tidak mau berubah dengan selalu berkata “dulu kami itu..” ya itu dulu. Jadi perubahan harus dimulai dari pribadi. Merubah pribadi seorang kader itu juga tidak sederhana. Karena yang mau dirubah wawasannya dengan tarbiyah tul akliyah.

Dulu kader Hidayatullah susah sekali mau belajar karena banyak orang Hidayatullah memahami sosok pendiri alahuyarham Abdullah Said dianggapnya tidak mau belajar.

Padahal beliau orang yang selalu mau belajar dengan membeli dan membaca buku. Belum ada duanya dai yang beli buku tiap hari. Tidak ada buku yang terbit yang tak dibelinya saat itu. Dan beliau kalau membaca cepat sekali.

Bahkan bukan sekadar membaca tapi merenungi dan menghayati. Ketika membaca beliau seperti berkelahi dengan buku dengan cara mengkritisinya. Maka beda bobot pembicaraan beliau dengan orang lain.

Membaca buku itu yang pertama dibaca penulisnya. Benarkah pemikirannya. Kedua judulnya, ketiga daftar isinya.

Perubahan kedua spiritualnya. Hanya orang yang kuat spiritual yang mampu melakukan perubahan. Istilah Abdullah Said kader tidak boleh memiliki “syahadat impoten”

Itulah sebabnya Abdullah Said mengajarkan taqarub illahlah di atas rata-rata dengan qiyamullail lebih kuat agar tidak rapuh jiwa. Jiwa yang rapuh itu ciri-cirinya sedikit-sedikit tersinggung, marah dan gampang goncang. Maka tidak ada yang bisa dibikin, dilakukan dan diubah oleh orang yang rapuh jiwanya.

Abdullah Said biasa membanting-baanting mental kader di forum agar terbiasa dengan tantangan dalam melakukan perubahan.

Tapi itupun tak cukup. Faktanya banyak umat Islam dan ulama yang memiliki ilmu dan spirit kuat tapi tak mampu berkompetisi tak mampu berbuat apa-apa. Mengapa bisa dimana masalahnya ?

Maka harus kuat dan memiliki kemampuan agar memiliki jiwa kompetisi. Itulah mengapa kader disiapkan agar fisiknya kuat dan memiliki keahlian, itu untuk modal dan disiapkan berkompetisi.

Tidak semua ulama mampu buat pondok karena tidak disiapkan/memiliki skill keterampilan dan kekuatan. Sedangkan kader Hidayatullah mudah dan ringan saja dari tingkat apa saja bisa ditugaskan merintis pendirian pondok.

Maka dengan memiliki tiga hal di atas akan mudah melakukan perubahan. Tapi ilmu, spiritual dan skil juga harus disesuaikan dengan tahap perjuangan.

Abdullah Said memulai merubah dengan membuat jaringan. Maka di majalah TIME menulis pada 1990 jaringan ormas Islam terkuat di Indonesia itu Hidayatullah. Dan untuk ekspansi dan jaringan eksis dengan menciptakan kader. Itulah kenapa Abdullah Said itu menganggap kader itu mahal sekali.

Ketika suatu hari memberi tausiyah di pinggir danau beliau berkata “semua kader itu mahal dan semua kader ada manfaatnya.” Lalu Ust Abdul Qadir Jaelani bertanya apa manfaat kader yang nakal ? Manfaatnya melatih kesabaran. Kalau santri taat semua maka tak teruji kesabaran pengurus dan pengasuh.

Ust Rahaman Surabaya menimpali berarti bagus kalau kita terima santri kaya dan pintar. Namun Abdullah Said berkata yang banyak santri miskin dan kurang pintar lalu siapa yang mengurusnya ?

Maka Abdullah Saidpenugasan kader sesua potensinya. Kader dari Jawa di dalam kantor dari Bugis di lapangan. Karena kader mahal maka Abdullah Said tiadakan kegiatan penamatan agar kader tidak kemana-mana tapi langsung disebar untuk perkuat jaringan khususnya di wilayah minoritas seperti di Papua, Maluku dan Sulawesi Utara.

Mengapa minoritas karena kader langsung paling ulama. Itu cara bangun kepercayaan pula.

Setelah jaringan terbentuk, lalu ketaatan ditajamkan. Abdullah Said menerjemahkan perkataan Umat bin Khatab “Sesungguhnya tidak ada Islam tanpa jama’ah, dan tiada jama’ah tanpa kepemimpinan, dan kepemimpinan tidak terwujud tanpa ketaatan.’ Beliau meringkasnya dengan “.. tidak ada Islam tanpa ketaatan”

Pernah seorang Kyai dari Rodja ustad Faturahman bertanya “Kenapa kader Hidayatullah taat semua.” Karena ketaatan itu diproses. Dengan ketaatan apapun jadi. Dan sekarang terasa dengan adanya garis komando.

Dicontohkan orang Yahudi dengan intelektualitas tapi susah mentaati Tolud. Saat ini ummat Islam menunggu Imam Mahdi maka diperkirakan akan susah mentaati dan insyallah kader Hidayatullah akan mudah dan siap taat karena telah terbiasa untuk taat pemimpin.

Ketiga setelah taat/garis komando yakni jati diri. Pembentukan jatidiri Hidayatullah itu melalui proses luar biasa. Agar kadernya menjadi agen perubahan, fungsionaris, ujung tombak bukan ujung tumpul bagi perubahan. Selamat menikmati daurah dengan materi jatidiri yang akan disampaikan.(fir)

*) Disarikan dari tausiyah subuh kepada peserta Daurah Marhala Wustha di Gedung Dakwah Hidayatullah, Parepare, Jumat (2/9/2022).



BACA JUGA