Saturday, 29 April 2023 | 16:34 Wita

Perubahan yang Terbelenggu

Editor: Humas DPW Hidayatullah Sulsel
Share

Oleh : Ust Drs Nasri Bukhari MPd, Ketua DPW Hidayatullah Sulsel

HidayatullahSulsel.com — Berubah itu bisa dikatakan susah, bisa juga dikatakan mudah. Susah ketika hal yang lama telah menjadi karakter pada diri seseorang, dan mudah ketika menemukan jalan yang begitu mudah berubah, yang kadang tanpa diduga dan tak disangka.

Ada kisah menarik tentang bagaimana susahnya berubah walau waktu dan jaman telah berubah termasuk pada dirinya, karena pikirannya telah terkooptasi untuk tidak perlu berubah.

Beberapa dekade lalu ada salah satu hiburan paling menarik, yaitu pertunjukan sirkus, sering mempertontonkan binatang buas termasuk gajah. Bagaimana bisa gajah yang besar, liar dan buas bisa tunduk patuh pada pawangnya. Itu karena pembiasaan bertahun-tahun sejak kecil.

Gajah sirkus itu sejak masih kecil diikat dengan rantai yang sangat kuat, sehingga meskipun meronta maka ia kesulitan melepaskan dirinya dari belenggu rantai. Bahkan akhirnya ia kesakitan setiap kali mencoba untuk melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya.

Setiap kali mencoba melepaskan diri dari rantai yang membelenggunya ia selalu kesakitan. Yang pada akhirnya, walaupun gajah yang seharusnya memiliki tenaga sangat besar, namun tak mampu melepaskan dari belenggu itu. Sampai memiliki keyakinan bahwa ia tidak mungkin lagi bisa lepas dari rantai yang membelenggunya.

Sehingga kemudian menjadilah gajah tersebut sebagai gajah sirkus. Walaupun berbadan besar dan bertenaga besar namun telah kehilangan tabiat gajahnya yang asli, kehilangan semangat untuk keluar dari ikatan imajinernya.

Gajah sangat fenomenal berubah menjadi penurut dan jinak setelah dilatih oleh pelatih sirkus. Demikian halnya saat rantainya dibuka, maka gajah pun tidak berusaha melarikan diri. Dalam fikirannya selama ini merasa selalu saja ada rantai yang selalu mengikatnya.

Dalam benak gajah itu telah ada “rantai” yang membelenggunya. Padahal rantai itu bisa jadi tidak ada. Sementara tenaganya yang sangat besar sebetulnya memampukan gajah itu untuk berbuat lebih banyak. Tidak hanya melepaskan rantai yang membelenggunya, tapi bisa mengamuk serta menghancurkan di sekelilingnya, khususnya kepada yang dianggap mengganggu kenyamanannya.

Demikian pula gambaran tentang manusia dalam merubah sebuah keyakinan dan pemahamannya, dari sebuah doktrin yang secara tidak sadar bekerja terhadap kehidupannya.

Kebenaran dari keyakinan yang difahami dipegangnya erat dan kuat, padahal itu hanya doktrin yang sudah ketinggalan dari perkembangan kehidupan, sehingga tidak layak lagi dipertahankan. Dipertahankannya kebenaran itu padahal itu hanya doktrin dan perilaku yang hanya tepat pada zaman masa lalu yang dialaminya.

Salah satu contohnya adalah pemahaman dalam metode pendidikan dan dakwah, sebelumnya mengandalkan metode tatap muka face to face, ditambah dengan kedekatan dari hati ke hati secara langsung. Sehingga mampu mentransformasi ilmu dan nilai ke audiens.

Setelah perkembangan teknologi ditandai dengan tersedianya alat dan media komunikasi modern yang mudah dan cepat. Mampu mendekatkan batas jarak dan waktu. Walau media komunikasi adalah alat yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang baik dan buruk. Namun harus dimaksimalkan pemanfaatannya untuk kepentingan dakwah dan pendidikan mempermudah dan mempercepat transformasi ajaran tauhid ke masyarakat.

Membuka cakrawala fikiran, bahwa siapa yang berfikir terbuka dan progresif dalam menyikapi perubahan, tak terkecuali pada aktivitas dakwah niscaya akan menjadi penggerak dan pelopor perubahan ke arah kehidupan umat yang lebih baik.

Orang seperti itu akan dicatat sebagai golongan yang kehadirannya senantiasa membuat perubahan ke arah positif, “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)” (QS. Al-An ‘aam: 160).(*)



BACA JUGA