Monday, 1 August 2022 | 11:55 Wita

Cerita Healing ala Santri Putri Pinrang

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

HidayatullahSulsel.com — Ahad pagi yang cerah. Kondisi cuaca yang biasa dianggap menyenangkan bagi kebanyakan orang. Apalagi di akhir pekan.

Healing atau wisata alam, di antara pilihan menarik untuk mengisi kebahagiaan. Melepas penat dari kesibukan yang mendera setiap hari. Meski ada juga yang memilih bersantai dan istirahat di dalam rumah saja.

Tapi demikian itu sepertinya seperti tak berlaku bagi seratus santri yang mondok di Pondok Pesantren Hidayatullah di Menro’, Pinrang, Sulawesi Selatan.

Definisi healing menurut mereka tak perlu rumit dan mahal. Bahagia mereka sederhana saja. Santri-santri penghafal al-Qur’an itu hanya kepingin asrama tahfizh dan bangunan masjid tempat mereka tinggal dan beribadah bisa segera jadi dan ditempati.

Itulah yang melatarbelakangi kegiatan pengecoran hari tersebut. Ramai-ramai mereka lalu berebut ingin membantu pak tukang dan warga sekitar yang sedang mengerjakan pengecoran bangunan itu. Ada yang mengangkat pasir, menggotong semen, menyekop koral, mengalirkan air, dan sebagainya.

“Anak-anak ini mau sekalimi punya asrama dan masjid yang lebih layak. Makanya semangat sekali kalau dibilang diizinkan bisa bantu warga atau tukang mengecor,” ucap Ustadzah Nenni Handriani, pengasuh sekaligus guru di tempat itu.

Lewat sambungan telepon, Nenni lalu bercerita dengan logat Bugisnya tentang “keunikan” santrinya, beberapa hari yang lalu.

Nenni mengaku, selama ini santri khususnya putri, masih tinggal di bawah kolong rumah ustadz di pondok itu. Berdinding kayu dengan beberapa sekat kamar di dalamnya. Belakangan, jumlah santri yang terus bertambah membuat asrama semakin penuh dan butuh bangunan permanen yang lebih luas.

“Saat ini ada 104 orang santri dan separuh jumlah itu adalah santri putri,” ungkap ustadzah lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dari keterangan Nenni, jenjang pendidikan santrinya bermacam-macam, dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA. Sehari-hari para santri disebutnya belajar mendalami ilmu agama secara informal dan fokus menghafal al-Qur’an.

Masih soal mengecor, menurut Nenni, selain sebagai hiburan “mewah” santri, mereka juga ternyata termotivasi dari nasihat Ustadz Hamka, pimpinan di pondok pesantren tersebu. Ustadz Hamka disebutnya selalu menyemangati para santri dalam belajar dan bekerja sekaligus.

“Selain sibuk belajar, kalian juga harus punya amal shaleh dan amal jariyah di tempat ini. Biar semua santri punya ‘bekas tangan’ dan menjadi hujjah di Akhirat,” ucap Nenni menirukan nasihat ustadznya.

Rupanya inilah kemudian yang menggerakkan para santri penghafal al-Qur’an itu untuk giat membantu pengecoran masjid dan asrama tahfizh. Seperti diketahui, beberapa bulan lalu, sebuah video singkat beredar melalui beberapa grup-grup percakapan.

Dari potongan video itu, sejumlah santri putri dengan jilbab lebarnya tampak berbaris memanjang. Ember yang berisi pasir dan koral itu lalu diangkat secara bergantian dan bersambung. Mereka terlihat bergembira, saling bercanda, dan tertawa menikmati kegiatan itu.

Mereka selalu mengingat pesan sang ustadz, bahwa ini bukan sekadar kerja mengecor dan dapat capek saja. Tapi juga sebagai bagian dari proses pembelajaran santri, melatih mental, serta membentuk etos kerja para santri.

“Iya capek tapi senang dan bahagia saja bisa membantu. Apalagi (bangunan) ini dipakai oleh teman-teman para penghafal al-Qur’an nanti,” ucap St. Az-Zahra Rifai, santri kelas II SMA asal Jeneponto, Sulawesi Selatan.(Maskur)