Saturday, 12 November 2022 | 20:52 Wita

Rawatlah Nikmat Iman dan Islam dengan Bersyukur

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

Oleh: Dr H Abdul Aziz Qahhar Muzakkar MSi, Dewan Pertimbangan Hidayatullah

HidayatullahSulsel.com — Nikmat iman dan Islam adalah nikmat tertinggi dalam hidup dan kehidupan manusia.Sebab dengan nikmat inilah manusia dikatakan sebagai makhluk yang sempurna.

Karena semua kualitas kehidupan di luar Iman dan Islam adalah fatamorgana atau hanyalah permainan dan sendagurau semata. Maka kita harus mensyukuri nikmat Iman dan Islam ini.

Berbicara tentang nikmat, tentu tidak bisa kita menafikan bahwa nikmat dari Allah Ta’ala itu tidak mungkin terhitung. Tidak usah kita hitung semua yang Allah Ta’ala berikan, yang ada pada diri kita saja pasti tidak bisa diketahui jumlahnya.

Contoh misalnya jantung, merupakan salah satu organ tubuh yang penting dalam diri kita. Jika jantung ini bermasalah maka tubuh kita pasti akan bermasalah, begitu juga dengan organ tubuh lainnya.

Sehingga nikmat tubuh manusia ini sangat mahal dan tidak bisa dihargai dengan apapun. maka jika kita diberikan nikmat sehat, kita harus banyak bersyukur. Karena nikmat pada tubuh kita adalah pemberian yang sangat mahal dari Allah Ta’ala dan tak mampu dihitung dan dinilai.

Itu baru nikmat yang ada dalam diri manusia. Belum lagi nikmat makan dan minum. Orang yang tidak makan selama satu bulan, Insya Allah mereka masih hidup selama masih mau minum. Tapi kalau ada orang satu bulan tidak minum, walaupun makan pasti akan mati.

Tapi ada pemberian Allah yang tidak sampai sepuluh menit saja tidak kita pakai pasti kita akan mati. Nikmat itu adalah oksigen. Alhamdulillah Allah memberikan semuai itu gratis kepada kita.

Nikmat lainnya adalah matahari. Andaikata matahari itu berhenti selama tiga bulan tidak terbit, maka semua pepohonan yang ada dipermukaan bumi ini pun akan mati.

Dari sedikit gambaran tentang nikmat yang diberikan ini. Orang beriman pasti akan merasa bahwa pemberian dari-Nya begitu penting untuk kita syukuri, sebab bersyukur akan merawat iman dan memperkuat keislaman kita.

Di samping itu, dengan bersyukur, Allah Ta’ala juga aka menambah lebih banyak nikmat kepada manusia, sebagaimana dalam Firman-Nya:


وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS: Ibrahim : 7)

Jadi syukur ini adalah bagian yang mutlak daripada keimana, dengan Iman yang baik, kita akan lebih termotivasi untuk mengejar prestasi. Karena orang yang beriman itu sudah pasti bersyukur dan orang bersyukur itu pasti termotivasi untuk berprestasi lebih baik.

Tentu bagi orang beriman kesyukuran terbesar adalah jika diberikan pemahaman ilmu agama. Sebagaimana Hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus tentang Al-Qur’an dan hadits, didasari dengan kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al-Qur’an dan hadits dengan benar.

Makanya syukur ini, oleh para motivator merupakan salah satu materi penting dalam memotivasi manusia, sekaligius menghindari rasa kufur sebab orang yang selalu bersyukur itu akan menghadirkan energi positif dalam hidupnya.

Sebenarnya sangat sederhana, cukup kita bersyukur saja, maka Allah Ta’ala akan mendatangkan rezeki, kunci dalam hidup itu ada pada pola pikir saja. Bagaimana kita bersyukur atas semua yang kita dapatkan dalam hidup kita.(Ridwan Gagah)

*) Disarikan dari Kajian Subuh di masjid Ponpes Hidayatullah Towuti, Luwu Timur