Saturday, 3 September 2022 | 19:36 Wita

Di Daurah Wushta Hidayatullah Sulsel, AQM Pastikan Tak Ingin Lagi Terlibat Kontestasi Politik

Editor: Firmansyah Lafiri
Share

PAREPARE, HidayatullahSulsel.com — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) tiga periode Ust Dr Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar (AQM) memastikan tak akan menerima lagi ajakan untuk terlibat konstetasi politik.

“Saya sudah cukup 15 tahun menerima tugas menjadi “kelinci percobaan” berpolitik khas Hidayatullah. Menjadi anggota DPD maupun 3 kali terlibat di Pilgub Sulsel pengalaman luar biasa,” jelas Dewan Pertimbangan Hidayatullah itu di sela menyampaikan materi tentang dua jati diri Hidayatullah Al Harakah Al Jihadiyah dan Imamah wal Jamaah pada Daurah Marhala Wustha DPW Hidayatullah Sulsel, Parepare, Sabtu (2/9/2022).

Kepastian tersebut diutarakannya pada sela penjelasan posisi Hidayatullah dalam politik sebagai salah satu bagian dari gerakan dakwah dan tarbiyah, untuk musim konstetasi politik dalam waktu dekat.

Juga sebagai keputusan merespon beberapa tawaran beberapa partai politik maupun bakal calon Pilgub Sulsel yang masih datang meminta kesediaan AQM untuk kembali berpolitik.

Hal itu juga dibenarkan Ketua Dewan Murabbi Hidayatullah Ust Dr Tasyrif Amin MPd. “Pada musyawarah majelis Syura pekan lalu beliau sudah meminta izin secara kelembagaan agar tak lagi ditugaskan menjadi pemain namun cukup menjadi mentor politik bagi kader Hidayatullah yang memiliki potensi untuk terjun di politik praktis,” jelasnya.

Karena menurut AQM kepada peserta daurah, politik tidak boleh dihindari sepenuhnya apalagi ditinggalkan, sebab menjadi salah satu elemen pergerakan yang sangat efektif untuk menciptakan tatanan peradaban Islam sebagaimana visi Hidayatullah.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Al Bayan Hidayatullah Makassar itu mencontohkan bagaimana sebuah tempat hiburan malam Alexis yang sekejap bisa ditutup hanya dengan selembar surat keputusan dan tandatangan Gubernur Anies Baswedan, padahal sebelumnya tak berhasil walau sudah dipermasalahkan berkali-kali.

Apalagi, rincinya, jika gerakan melalui jalur apa saja termasuk politik dilandasi filosofi berjuang dan berjamaah bahwa Allah senang kepada orang berperang (jihad) di jalan Allah dan selalu dalam shaff (jamaah).

Diuraikan bahwa tingkatan jihad dalam Islam terdiri dari jihad melawan hawa nafsu, jihad memerangi syetan, jihad melawan orang kafir dan orang munafik yang dholim dan yang memerangi orang Islam.

“Ada dua inti tuntutan yang dibutuhkan dalam jihad yakni Kesabaran dan Keyakinan,” tandasnya di hadapan 50 peserta daurah dari seluruh kampus/pesantren, yayasan dan BMH se-Sulsel di Gedung Dakwah Hidayatullah .(fir)


Tags:

BACA JUGA